Tya

Udara senin pagi itu terasa sejuk. Cuaca cerah. Awan putih membayang hingga mendekati kaki langit. Sinar matahari yang lembut jatuh berkilau di pucuk-pucuk pepohonan. Dan kesibukan pagi mulai bergegas. aku menikmati suasana baru di sekelilingnya dengan hati bening. Semua bunyi yang sampai ke telinga, serasa sapaan selamat pagi yang ramah,. Jendela di rumah besar sudah lama terbuka. Namun tak didengarnya suara-suara di sana,.Ibu sedang asyik dengan tanaman bunganya di halaman belakang. Sedemikian sepi, sehingga cericit burung yang hinggap di atas pohon menjadi lebih nyaring terdengar. Suara-suara dari arah jalan leluasa menyusup masuk ke dalam pavillion. Seperti biasanya aku mulai bisa menengarai kebiasaan pagi.

Aku menyeduh kopi yang telah aku siapkan dengan air dispenser. Lalu kubuat dua potong sandwich berisi telur dadar. Tersedialah sudah sarapanku. Sambil baca koran. Duduk menghadapi sarapan, aku membalik-balik lembaran berita di tangan. Mataku menjelajah cepat dari satu judul ke judul lainnya. Sekali-sekali kadang aku tarik napas dalem² kl lihat berita yang tak menyenangkan hati. Masalah Aceh yang entah kapan akan selesai. Ribut-ribut soal pembelian pesawat tempur Sukoy. Setumpuk ketidak puasan terhadap kinerja serta perangai anggota DPR. Dan sebuah berita menyedihkan. Operasi kembar siam di Singapura telah gagal. Dua gadis Iran berusia 29 tahun itu meninggal setelah menjalani operasi selama 52 jam.aku memandangi potret di koran itu dengan perasaan sedih. Bukan hanya aku. Dunia yang terus memantau peristiwa besar ini ikut berduka.

aku menyeruput kopinya, dan meneruskan makan. Sambil merenung, betapa aneh dan tak menentunya hidup ini. Betapa terbatasnya kecanggihan teknologi manusia,. aku melipat kembali dan melemparkan koran yang baru dibaca ke atas meja sudut. Dan aku kaget ketika melihat seorang gadis sudah berdiri di ambang pintu. aku benar-benar tak tahu kapan gadis itu datang. Tak mendengar pintu dibuka. Atau, aku tak ingat sama sekali telah membiarkan pintu terbuka. Tapi tak apalah. Gadis itu cantik.,Hehehhe..

Selamat pagi,” sapa aku membalas, berbuat sesopan mungkin.

Silakan. Adakah sesuatu…” Gadis itu seakan tak lagi mendengar, masuk selangkah. Memandang berkeliling. Aku menduga ia seorang Yang ada kepentingan sama ibu aku.

Saya akan mengambil kucing saya,” kata gadis itu.

Kucing?” Aku sungguh tercengang. Sedari tadi tak melihat sepotong kucing pun memasuki rumahku. Namun dengan mataku dicari pula binatang itu. Barangkali ia tengah mendekam di kolong meja.

Saya tak melihatnya. Cobalah anda cari sendiri.” Tanpa kata gadis itu melangkah masuk, diikuti pandang mata Ku. Di balik punggung tuan rumah, gadis itu membungkuk memungut sesuatu. Lalu melangkah kembali ke pintu depan dengan seekor kucing dalam pelukannya. Aku terkesima. Kucing itu sangat bagus. Berbulu lebat, berwarna putih bersih. Persis seperti kucing mainan yang pernah dilihatnya di toko. Aku diam saja. Dan gadis itu kini berdiri bersandar pada pintu, menghadapnya.

Silakan duduk,” ucap Aku kemudian. Tapi gadis itu menolak. Memintanya meneruskan sarapan. Aku tertawa. Tentu tidak lucu kalau dia membiarkan tamuku tetap berdiri. Sementara Aku meneruskan sarapan paginya.,Kataku,

Anda tamu saya.!”

Anda baru di sini?”

Ya. Aku pendatang baru di sini”

Rasanya lebih baik kalau kita beraku dan berengkau saja?”

Sekiranya anda tak keberatan, saya senang menerima usulan anda.”

Namaku Tya.”

Nama yang bagus. Aku Rus.” Gadis itu mengalihkan kembali perhatiannya pada kucing dalam pelukan. Membelainya lembut. Aku memperhatikan perawakan gadis itu, Ckckck…:D yang semampai. Ia mengenakan bando di kepalanya. Dan rambutnya tergerai hingga sedikit di bawah bahu. Kulitnya yang kuning langsat tampak lebih cerah karena baju putih yang dipakainya. Dan Aku menyukai warna roknya yang ungu muda.

Duduklah,” ujar Aku lagi. Tya menggerakkan kepalanya. Membenahi letak rambutnya.

Tidak usah,” sahutnya, “Aku sudah mengganggu sarapanmu. Teruskan. Tak usah risau denganku.”

Kau akan melihat-lihat Poto-ku?”

Sudah. Sudah cukup.”

Kubuatkan minum, ya?”

Tidak usah. Jangan kau repotkan dirimu sendiri. Biasa sajalah. Mengapa tak kau teruskan makanmu?” Aku merasa tak punya cara yang lebih baik menghadapi tamuku. Jadi Aku pun mencoba bersikap sesantai mungkin. Kembali ke meja makan meneruskan sarapan. Membiarkan Tya bermain dengan kucingnya.

Kalau kau mau ikut sarapan, akan kubuatkan.” Tya tertawa lembut. Tak bergerak dari tempatnya.

Pussy…Pussy…”

Kau tinggal di sekitar sini?”

Pussy…Pussy…”

Kucingmu sering datang ke sini sebelumnya?”

Tidak. Ini yang pertama.”

Bagaimana pendapatmu tentang Ladan dan Laleh?”

Siapa?”

Gadis Iran kembar siam itu?”

Aku tak tahu.”

Tak tahu. Kau tak membaca koran?”

Tidak.”

Tak mendengar radio?”

Tidak.”

Menonton TV?” Tya menggeleng.

Mengobrol dengan orang lain?”

Tidak membicarakan itu.”

Oh…”

Kenapa ‘oh’?” Aku memperhatikan betapa penuh kasih sayang Tya  membelai kucingnya.

Apakah kau hanya membicarakan kucing saja?”

Pussy…Pussy…” Aku menyelesaikan sarapannya. Dan Meneguk habis kopinya.

Kau akan pergi?”

Ya. Maaf, kutinggal dulu sebentar. Aku ganti pakaian.” Aku masuk ke kamar.

Baiklah. Kalau begitu aku pamit pulang,” suara Tya dari luar. Buru-buru Aku mengganti pakaian.

Tunggu dulu,” seruanKu, “Sebentar aku selesai.” Tak didengarnya sahutan. Sambil memasang kancing baju yang terakhir, Aku membuka pintu dan keluar. Tya sudah tak ada di tempat. Pintu telah tertutup. Seolah tak pernah ada seorang pun datang dan mengobrol denganku.

Perjumpaan yang aneh. Aku merasa seperti baru saja bermimpi. Tapi Aku yakin gadis itu benar-benar datang dan bercakap-cakap denganku. Cepat aku berlari keluar. Aku pikir Tamuku itu pasti belum jauh dari rumah. Di pintu pagar aku menengok ke kanan dan ke kiri. Mencari dengaan mataku. Tapi tak dilihat sama sekali sosok itu. Dengan perasaan kecewa Aku kembali masuk ke dalam rumah. Aku kurang cepat. Sangat mungkin wanita itu adalah salah satu tetangga baruku yang baru tinggal di sekitar sini. dan memang ,sudah bilang Ia pendatang baru disini.

Sesunggguhnya Aku ingin melupakan saja gadis itu. Menganggap pertemuanku dengan nya sebagai sesuatu yang kebetulan saja terjadi. Tapi seharian aku pergi, wajah Tya seperti terus mengikutiku. Kadang seperti berdiri di sebelahku. Dengan lembut mengajak bicara tentang kucing. Aku berperang dengan pikiranku sendiri. Merasa diriku sedemikian bodoh. Sebab Tya sama artinya dengan bicara kucing setiap saat. Aku tak ingin disibukkan untuk mencari buku referensi tentang binatang itu, agar pembicaraan tak membosankan. Absurd dan sama sekali tak menarik. Tidak…!!, Aku tak ingin memikirkannya…!!. Malam itu Aku pulang agak larut. Dan dalam tidurpun Aku bermimpi tentang bidadari dan kucing bersayap. Terbang seperti layang-layang mainan-ku semasa kecil.

Kucing


Leave a Comment